Tutorial Minta Naik Gaji (rangkuman tips dari Samuel Amarta, seorang HR Consultant)


Suatu malam aku terlibat obrolan sama seorang supir taxi yang sedang nganter aku ke salah satu rumah sakit di Kuala Lumpur, saat itu aku bertujuan menjenguk temen kantor yang lagi diopname.


Setelah basa-basi dan sedikit bahas politik (kita ngomongin soal Mahathir, tokoh yang menurutku cukup ambisius karena diusia 90-an tahun masih menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia), supir taxi ini (yang ngakunya berasal dari India) ngucapin satu kalimat yang menarik, dia bilang ada pepatah dalam bahasa India yang artinya kurang lebih 'satu-satunya hal yang manusia gak akan pernah bilang cukup itu hanyalah uang', dia menambahkan, kita bisa aja suka banget sama satu jenis makanan, tapi saat udah kenyang, kita akan bilang cukup, tapi soal uang? Gak akan pernah ada kata cukup.


Pada kenyataannya untuk seorang karyawan (termasuk aku), kenaikan gaji tahunan memang sering tidak sesuai dengan tingginya inflasi: nilai riil mata uang turun, sehingga uang seakan-akan bertambah banyak (nominalnya), tapi dengan kenaikan harga barang, daya beli kita justru jadi menurun. Ditambah lagi kondisi pandemi, boro-boro naik gaji, masih punya pekerjaan saja sudah bersukur, kan? Kondisi ini makin bikin kita ngerasa kalo uang itu memang gak pernah cukup.


Jika gaji dan insentif yang diterima karyawan gak sesuai sama effort yang sudah diberikan oleh karyawan untuk perusahaan (tolak ukurnya disini karyawan selalu achive target yang diberikan, bahkan doing extra miles buat perusahaannya), karyawan jadi demotivated, tidak optimum performa kerjanya, karena untuk termotivasi, menurut Maslow (cek podcast saya membahas lebih detail teori Malsow) sesorang mesti merasa secure, termasuk secure secara finansial.


Nah, sebagai seorang karyawan yang tertarik topik-topik seputar HR (Human Resource/Sumber Daya Manusia), berikut aku rangkum dan share beberapa poin tutorial cara naik gaji atau hal-hal apa saja yang mesti kita tau & lakukan sebelum minta naik gaji, dari Samuel Amarta, seorang HR consultant (link videonya: https://www.youtube.com/watch?v=vg6tWd-4Klo).


1. Tau diri. Jangan minta naik gaji dengan alasan pribadi, misalnya untuk modal menikah (itu bukan urusan bos atau perusahaan kita). Juga jangan minta naik gaji saat kita baru saja menerima kenaikan gaji dalam waktu yang berdekatan dan bukan juga pada saat performance kita buruk (tidak achieve target yang diberikan oleh perusahaan).


Kita harus tau market, cek apakah skill yang kita miliki jarang dimiliki oleh orang-orang pada umumnya sehingga perusahaan rela menggaji kita kebih tinggi. Senantiasa upgrade skill yang kita miliki agar kita tetap relevan dan memberikan value lebih untuk perusahaan tempat kita bekerja.


2. Jangan membandingkan gaji dengan orang lain terutama dengan orang yang bekerja di perusahaan lain, karena kita tidak pernah tau pasti skill orang lain itu seperti apa, tuntutan pekerjaannya seperti apa, dan perusahaannya seperti apa. Survei-survei gaji yang sering kita jumpai online juga tidak selalu akurat.


3. Bersyukur dengan gaji dan pekerjaan yang kita miliki dan sadari bahwa ada kalanya (tidak selalu) kita mengorbankan gaji untuk mendapatkan pengalaman atau agar kita bisa belajar lebih banyak. Lihat juga potensi perusahaan tempat kita bekerja, kalau gaji belum besar namun perusahaan punya potensi untuk berkembang, kita stay dulu di perusahaan tersebut sambil belajar sebanyak-banyaknya dari perusahaan tempat kita bekerja.


Sebagai gambaran, perusahaan besar seperti Gojek tidak tiba-tiba saja muncul menjadi perusahaan ''decacorn'', maka bisa diasumsikan karyawan yang sudah bekerja di Gojek dari awal-awal perusahaan didirikan, most likely akan menikmati kenaikan gaji atau insentif seiring berkembang pesatnya perusahaan tersebut.


Dari sisi HR atau perusahaan, hal-hal di bawah inilah yang menjadi pertimbangan untuk kenaikan gaji karyawan:


1. Lama bekerja

2. Achieve target yang diberikan atau tidak

3. Sesuai dengan value perusahaan atau tidak

4. Tanggung jawab dan masih bisa memenuhi target jika diberi responsibilities baru

5. Inflasi & kenaikan harga-harga barang


Catatan tambahan:


Milikilah growth mindset (lawan dari fixed mindset), jangan batasi diri sendiri misalnya dengan mengharuskan diri bekerja sesuai jurusan kuliah (kita belum tentu suka jurusan kuliah yang kita ambil, kan?) kita juga bisa kok berkembang di bidang atau profesi lain, contoh konkritnya walaupun kamu belajar ilmu HR saat kuliah, bukan berarti kamu tidak punya potensi untuk bekerja sebagai sales atau marketer yang baik.


Gaji serta jabatan bukanlah selalu menjadi hal yang paling penting dalam perjalanan karir, identifikasi apa yang kita pelajari dari perusahaan tempat kita kerja, tidak melulu soal berapa gaji yang kita dapat atau seberapa mentereng jabatan kita di perusahaan tersebut.


Semoga bermanfaat.




14 views0 comments
 
  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn